Dulu, aku pernah ada di fase meragukan semua yang sudah Tuhan berikan karena merasa diri ini berbeda. Sejak kecil, aku memang senang menjadi berbeda dan punya pendirian yang tinggi, tapi di saat yang sama, aku hidup dalam tekanan orang tua yang cukup besar.
Hal yang paling membuatku minder adalah kenyataan bahwa aku cadel. Rasanya, 18 tahun nggak bisa menyebut huruf "R" itu sangat memalukan bagiku di masa itu. Kondisi ini tanpa sadar membentukku menjadi pribadi yang sangat pemalu. Kenapa? Karena setiap kali ingin bicara, ada ketakutan: "Nanti mereka paham nggak ya?" atau "Nanti diketawain lagi nggak?".
Menjadi pemalu adalah caraku melindungi diri agar tidak perlu menanggung rasa malu itu. Aku lebih banyak diam dan menjadi pengamat, karena di dalam kepalaku, aku selalu sibuk menyaring kata-kata sebelum diucapkan agar tidak terdengar aneh. Itulah alasan kenapa aku tumbuh jadi pribadi yang jarang bicara.
Titik Balik dan Cara Bertumbuh
Aku baru benar-benar bisa menyebut "R" atau sembuh dari cadel di umur 18 tahun, tepat saat aku lulus sekolah. Butuh waktu setahun penuh untuk benar-benar lancar, dan prosesnya bukan cuma soal lidah, tapi juga soal mental. Kalau ada yang bertanya bagaimana caranya, ini yang kulakukan:
- Doa Tanpa Henti: Kedengarannya mungkin sederhana, tapi bisa menyebut "R" adalah doa yang paling sering aku ucapkan saat beribadah. Aku minta kemampuan untuk bisa berkomunikasi dengan normal.
- Melawan Label Diri: Aku belajar sadar bahwa aku sebenarnya normal. Selama ini, cuma diriku sendiri yang mencap bahwa aku "berbeda" dan "cacat".
- Latihan Konsisten: Aku mulai melatih posisi lidah dan getaran secara mandiri, meskipun awalnya terasa sangat kaku dan terkadang masih terbata-bata sampai sekarang.
Meskipun memori buruk tentang ejekan itu masih teringat sampai saat ini, aku tidak lagi menjadikannya alasan untuk bersembunyi. Ternyata, aku bisa loh bertumbuh. Luka lama itu sekarang cuma jadi bukti kalau aku sudah berhasil melampaui keterbatasanku sendiri.