← Kembali ke Blog
Published March 22, 2026

Sisi Lain Lebaran

Perspective

Lebaran seharusnya menjadi momen sakral untuk saling memaafkan, namun realitanya sering kali bergeser menjadi ajang adu gengsi dan interogasi tanpa filter. Bagiku, momen ini terkadang terasa memuakkan.

"Kerja di mana?", "Kuliah di mana?", "Kapan lulus?". Pertanyaan-pertanyaan nyeleneh itu sering kali muncul seolah mereka paling tahu segalanya. Rasanya sok mau tahu sekali—minimal kalau mau bertanya sejauh itu, ikut biayain lah ya. Mungkin bagi mereka yang sudah berada di posisi aman, pertanyaan ini terdengar normal. Tapi bagi mereka yang masih berjuang, rentetan pertanyaan itu terasa sangat tidak nyaman. Sialan memang.

Aku pernah berada di fase di mana aku malas keluar rumah atau sekadar berinteraksi dengan orang-orang, karena aku sudah tahu ke mana arah pembicaraannya. Menyakitkan saat orang-orang hanya menilai dari hasil akhir tanpa mau tahu seberapa keras usaha yang kita lakukan di balik layar.

Namun, pada akhirnya, semua "interogasi" terselubung itu justru menjadi pemicu. Tekanan-tekanan semacam ini perlahan membentuk mental yang lebih kuat untuk membuktikan bahwa kita mampu melampaui ekspektasi mereka. Orang lain mungkin mahir bertanya, tapi mereka tidak pernah tahu seberapa keras kita berupaya di balik layar. Jadi, cukup dengarkan, jadikan pemicu untuk menjadi lebih baik, lalu lupakan. Biarkan hasil yang berbicara.